Rabu, 08 Oktober 2014

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu Pertemuan Ketiga (oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.)

Terinspirasi kuliah Filsafat Ilmu pertemuan ketiga Oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Pada hari Kamis, 2 Oktober 2014
Pukul 09.30 – 11.10 di ruang 201A Gedung Lama PPs UNY

Direfleksikan oleh Weni Gurita Aedi
14709251012
Pend. Matematika (S2) 

Tanya Jawab Terkait Objek Filsafat yang Ada dan yang Mungkin Ada

Meneliti pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa secara satu persatu, agar siswa mampu mengajukan pertanyaan yang akan dijawab oleh Prof. Dr. Marsigit, M. A. 

1.       Pertanyaan pertama dari saudari Agustina Dwi tentang hasil atau nilai dari sebuah ujian itu apakah dapat dikatakan sebagai parameter seseorang telah memahami materi ajar.
Sifat pertanyaan tersebut pragmatis, singkat, manual, mekanistik, tidak mengandung idealisme, tidak berjangka panjang (bersifat psikologi atau ilmu-ilmu bidang). Misalnya tes jawab singkat tidak secara langsung berhubungan dengan kemampuan berfilsafat ataupun berhubungan langsung dengan eleg-elegi. Bukan berarti yang rajin membaca elegi sukses dalam menjawab pertanyaan, tetapi ada kemungkinan secara tidak langsung berkontribusi tetapi lewat perjalanan panjang bahkan melalui tahap-tahap metafisika. Jadi, menurut saya terkadang hasil atau nilai itu tidak dapat dikatakan sebagai parameter meskipun nilai merupakan standart yang harus dicapai dalam belajar. Dalam hal ini proses lebih penting dari pada hasil.

2.       Pertanyaan kedua dari saudari Amelia tentang apakah ilmu filsafat akan membantu menyelesaikan masalah dalam kehidupan manusia.
Anda tidak akan punya masalah jika anda sama dengan anda. Anda tidak akan pernah bisa menjadi anda karena ketika turun didunia maka anda tidak sama dengan anda dan akupun tidak sama dengan aku. Kita ambil contoh lain misalnya, 4 tidak sama dengan 4 karena ditemukan ada dua 4 disana, 4 pertama dan 4 kedua karena dunia ini terikat ruang dan waktu yaitu ruang pertama dan ruang kedua. Itulah didunia maka jangankan ikhtiarnya, kodratnya saja manusia memang sudah dibawakan masalah, masalah tersebut disebut sebagai hubungan antara subyek dan predikat. Predikat termuat didalam subyeknya. Predikat merupakan sifat obyek. Sifat dari sifat yang mempunyai sifat yang meliputi ada dan yang mungkin ada. Maka manusia didunia tidak akan tidak akan pernah mencapai subyek samadengan subyek. Hanya Allah SWT sang Maha pencipta yang bisa menjadi sama dengan nama-Nya. Sebenar benarnya hidup adalah masalah itu sendiri. Manusia hanya bisa berikhtiar, ikhtiar manusia agar dia menempati ruang dan waktunya secara proposional, sopan dan santun karena sebenar-benarnya bahagia sesuai dengan ruang dan waktunya. Filsafat itu berfikir kritis, dengan berfikir kritis kita akan mampu mencari solusi yang tepat untuk memecahkan masalah, dan selalu berikhtiar serta berdoa hanya kepada Allah SWT semata. 

3.       Pertanyaan ketiga dari saya sendiri yaitu Weni Gurita Aedi tentang bagaimana berfikir dewasa.
Ada dua dimensi yang ada yang ditawarkan. Pertama berfikir dan yang kedua dewasa. Dewasa itu psikologis, harus tau ruang dan waktunya. Kalau didalami dalam ilmu filsafat akan sangat bagus. Untuk mengetahui cara perkembangan berfikir dari kecil menuju dewasa. Dan esensisnya dari kita yaitu memperhatikan siswa. Kita harus memahami bagaimana cara siswa belajar matematika bukan kita paksakan tetapi kita pahami siswa itu tumbuh berkembang menjadi manusia yang dapat ikhlas dalam segala hal dan mampu mengambil hikmah dari setiap cobaan yang dialaminya.

4.       Pertanyaan keempat dari saudari Yulia Linguistika tentang ahli-ahli filsafat itu apakah semuanya laki-laki.
Dalam era kotemporer sebetulnya sudah muncul ahli filsafat wanita. Namun dalam catatan sejarah memang demikian. Jika kita pelajari secara sosioantropologi ada kaitannya antara kedudukan dan peran wanita pada zaman dulu. Tidak semua orang bisa menuntut ilmu, tidak semua orang punya hak untuk mengerti karna karena ilmu dipersonifikasikan sebagai wahyu dan mereka menganggap orang-orang yang ingin memelihara kekuasaan secara ketat. Orang yang memiliki ilmu diangap akan membahayakan. Ada kedudukun wanita yang tidak menyebabkan timbulnya filsuf-filsuf wanita pada zaman dahulu. Tetapi  sekarang pada filsuf kontemporer sudah mulai ada filsuf-filsuf wanita.

5.       Pertanyaan kelima dari saudara Muhammad Munir tentang kedudukan material, formal, normatif dan spiritual.
Struktur hirarti dari yang paling bawah yaitu material, formal, normatif dan spiritual. Materialnya dimulai dari tindakan. Formal itu bentuk resmi, tulisan, dokumen, dan aturan. Normatif itu filsafat, hakekatnya, epistemologinya, pengesahan ilmunya, serta etik dan estetikanya. Spiritual yaitu doa atau hati. Setiap ada dan yang mungkin ada dititik manapun bisa ditarik keatas kebawah dalam kaitannya dengan usaha untuk menembus ruang tetapi ruang tidak dapat dipisahkan dengan waktunya. Misalnya pikiran kita ibadah secara spiritual, seberapa jauh pikiran kita tentang ibadah itu dan jika ditarik kebawah noermatifnya yaitu seberapa jauh kita berfilsafat tentang ibadah. Normatinya turun kebawah yaitu formal ibadah yang dimaksu tulisan-tulisan kaitannya dengan ibadah. Turun kebawah ada masjid, gereja, pura, dsb itu materialnya dan jika ditarik keatas lagi sebuah batu mempunyai dimensi ruang dan waktu. Secara formal sebagai tugu peringatan, batu patok pembatas, formal artinya mengandung dampak hukum. Normatid dalam kalkulus atau misak batu untuk menghitung jarak yang ditempuh seseorang yang sedang naik andong, jadi kali putaran roda andong akan dijatuhkan satu batu. Tidak hanya pikiran saja, tetapi juga ada etik dan estetikanya misalnya batu cincin. Jadi, sebenar-benarnya hidup menembus ruang dan waktu.

6.       Pertanyaan keenam oleh saudari Nunung Megawati tentang bagimana mencapai kebahagiaan.
Bahagia adalah etik dan estetika, tergantung konsepnya. Misalnya dalam konsep barat, orang barat akan bahagia jika dia mencari ilmu. Lain orang barat lain pula orang timur. Orang timur ruangnya mencapai kesempurnaan, mencapai kesempurnaan itu didasarkan pada spiritualisme. Orang timur bahagia jika dekat dengan sang khalik (Allah SWT) demi mendapatkan keselamatan dan tujuan hidup tetapi juga tergantung dimensinya. Orang yunani kuno mencari Tuhan dengan pikirannya. Di indonesia, mencapai bahagia dengan hidup harmoni ruang dan waktunya. Hidup harmoni artinya keselarasan antara lingkungan, antara satu unsur dengan unsur yang lain.

7.       Pertanyaan ketujuh dari saudara Daud tentang Intuisi dan Insting
Intuisi merupakan tingkatan insting yang paling dasar. Intuisi pokok dan utama. Sebetulnya intuisi meliputi ada dan yang mungkin ada dansebagai modal utama yaitu intuisi ruang dan ituisi waktu. Bagi binatang yang mempunyai insting belum tentu mempunyai intuisi sebaik manusia, misalnya kucing tidak dapat membuat jadwal untuk menangkap tikus. Insting itu bawaan contoh, monyet meskipun tidak diprogram tapi masih tetap menikah. Insting mempunyai keterbatasan dan intuisi sebetulnya kita akan mengerti tetapi kita tidak ingat kapan mengertinya dan diman mengertinya tidak akan ingat. Intuisi lahirnya dalam interaksi, pengalaman, pergaulan baik disekolah, rumah maupun masyarakat. Kemudian pengalaman terkategorikan menurut Aristoteles ada 12 karegori, menurut Emmanuel Kant ada 4 kategori. Itulah yang menyebabkan bisa berfikir karena sudah terbentuk kategori. Kategori terbentuk secara alami lewat pergaulan maka intuisi itu pengalaman kategori dipakai untuk berfikir.

8.        Pertanyaan kedelapan dari saudara Saifan tentang keyakinan diri terhadap doa
Seberapa jauh kita memikirkan tentang doa seberapa jauh kita berfilsafat tentang spiritual. Pikiran seseorang tidak mampu memaknai segala macam doa. Sebagai manusia kita hanya mampu ber ikhtiar dan berdoa. Selalu memohon kepada Allah SWT untuk mengampuni segala dosa kita dan membaca Al-Quran sebagai pedoman hidup dan menuntun kita menuju jalan Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar