Pada hari
Kamis, 2 Oktober 2014
Pukul
09.30 – 11.10 di ruang 201A Gedung Lama PPs UNY Direfleksikan oleh Weni Gurita Aedi
14709251012
Pend. Matematika (S2)
Tanya Jawab Terkait Objek Filsafat
yang Ada dan yang Mungkin Ada
Meneliti pertanyaan yang diajukan
oleh mahasiswa secara satu persatu, agar siswa mampu mengajukan pertanyaan yang
akan dijawab oleh Prof. Dr. Marsigit, M. A.
1. Pertanyaan pertama dari saudari Agustina Dwi tentang hasil atau nilai dari sebuah ujian itu apakah dapat dikatakan sebagai parameter seseorang telah memahami materi ajar.
1. Pertanyaan pertama dari saudari Agustina Dwi tentang hasil atau nilai dari sebuah ujian itu apakah dapat dikatakan sebagai parameter seseorang telah memahami materi ajar.
Sifat pertanyaan tersebut
pragmatis, singkat, manual, mekanistik, tidak mengandung idealisme, tidak
berjangka panjang (bersifat psikologi atau ilmu-ilmu bidang). Misalnya tes
jawab singkat tidak secara langsung berhubungan dengan kemampuan berfilsafat
ataupun berhubungan langsung dengan eleg-elegi. Bukan berarti yang rajin
membaca elegi sukses dalam menjawab pertanyaan, tetapi ada kemungkinan secara
tidak langsung berkontribusi tetapi lewat perjalanan panjang bahkan melalui
tahap-tahap metafisika. Jadi, menurut saya terkadang hasil atau nilai itu tidak
dapat dikatakan sebagai parameter meskipun nilai merupakan standart yang harus
dicapai dalam belajar. Dalam hal ini proses lebih penting dari pada hasil.
2.
Pertanyaan
kedua dari saudari Amelia tentang apakah ilmu filsafat akan membantu
menyelesaikan masalah dalam kehidupan manusia.
Anda tidak akan punya masalah jika
anda sama dengan anda. Anda tidak akan pernah bisa menjadi anda karena ketika
turun didunia maka anda tidak sama dengan anda dan akupun tidak sama dengan
aku. Kita ambil contoh lain misalnya, 4 tidak sama dengan 4 karena ditemukan
ada dua 4 disana, 4 pertama dan 4 kedua karena dunia ini terikat ruang dan
waktu yaitu ruang pertama dan ruang kedua. Itulah didunia maka jangankan
ikhtiarnya, kodratnya saja manusia memang sudah dibawakan masalah, masalah
tersebut disebut sebagai hubungan antara subyek dan predikat. Predikat termuat
didalam subyeknya. Predikat merupakan sifat obyek. Sifat dari sifat yang
mempunyai sifat yang meliputi ada dan yang mungkin ada. Maka manusia didunia
tidak akan tidak akan pernah mencapai subyek samadengan subyek. Hanya Allah SWT
sang Maha pencipta yang bisa menjadi sama dengan nama-Nya. Sebenar benarnya
hidup adalah masalah itu sendiri. Manusia hanya bisa berikhtiar, ikhtiar
manusia agar dia menempati ruang dan waktunya secara proposional, sopan dan
santun karena sebenar-benarnya bahagia sesuai dengan ruang dan waktunya.
Filsafat itu berfikir kritis, dengan berfikir kritis kita akan mampu mencari
solusi yang tepat untuk memecahkan masalah, dan selalu berikhtiar serta berdoa
hanya kepada Allah SWT semata.
3.
Pertanyaan
ketiga dari saya sendiri yaitu Weni Gurita Aedi tentang bagaimana berfikir
dewasa.
Ada dua dimensi yang ada yang
ditawarkan. Pertama berfikir dan yang kedua dewasa. Dewasa itu psikologis,
harus tau ruang dan waktunya. Kalau didalami dalam ilmu filsafat akan sangat
bagus. Untuk mengetahui cara perkembangan berfikir dari kecil menuju dewasa.
Dan esensisnya dari kita yaitu memperhatikan siswa. Kita harus memahami
bagaimana cara siswa belajar matematika bukan kita paksakan tetapi kita pahami
siswa itu tumbuh berkembang menjadi manusia yang dapat ikhlas dalam segala hal
dan mampu mengambil hikmah dari setiap cobaan yang dialaminya.
4.
Pertanyaan
keempat dari saudari Yulia Linguistika tentang ahli-ahli filsafat itu apakah
semuanya laki-laki.
Dalam era kotemporer sebetulnya
sudah muncul ahli filsafat wanita. Namun dalam catatan sejarah memang demikian.
Jika kita pelajari secara sosioantropologi ada kaitannya antara kedudukan dan
peran wanita pada zaman dulu. Tidak semua orang bisa menuntut ilmu, tidak semua
orang punya hak untuk mengerti karna karena ilmu dipersonifikasikan sebagai
wahyu dan mereka menganggap orang-orang yang ingin memelihara kekuasaan secara
ketat. Orang yang memiliki ilmu diangap akan membahayakan. Ada kedudukun wanita
yang tidak menyebabkan timbulnya filsuf-filsuf wanita pada zaman dahulu.
Tetapi sekarang pada filsuf kontemporer sudah mulai ada filsuf-filsuf
wanita.
5.
Pertanyaan
kelima dari saudara Muhammad Munir tentang kedudukan material, formal, normatif
dan spiritual.
Struktur hirarti dari yang paling
bawah yaitu material, formal, normatif dan spiritual. Materialnya dimulai dari
tindakan. Formal itu bentuk resmi, tulisan, dokumen, dan aturan. Normatif itu
filsafat, hakekatnya, epistemologinya, pengesahan ilmunya, serta etik dan
estetikanya. Spiritual yaitu doa atau hati. Setiap ada dan yang mungkin ada
dititik manapun bisa ditarik keatas kebawah dalam kaitannya dengan usaha untuk
menembus ruang tetapi ruang tidak dapat dipisahkan dengan waktunya. Misalnya
pikiran kita ibadah secara spiritual, seberapa jauh pikiran kita tentang ibadah
itu dan jika ditarik kebawah noermatifnya yaitu seberapa jauh kita berfilsafat
tentang ibadah. Normatinya turun kebawah yaitu formal ibadah yang dimaksu
tulisan-tulisan kaitannya dengan ibadah. Turun kebawah ada masjid, gereja,
pura, dsb itu materialnya dan jika ditarik keatas lagi sebuah batu mempunyai
dimensi ruang dan waktu. Secara formal sebagai tugu peringatan, batu patok
pembatas, formal artinya mengandung dampak hukum. Normatid dalam kalkulus atau
misak batu untuk menghitung jarak yang ditempuh seseorang yang sedang naik
andong, jadi kali putaran roda andong akan dijatuhkan satu batu. Tidak hanya
pikiran saja, tetapi juga ada etik dan estetikanya misalnya batu cincin. Jadi,
sebenar-benarnya hidup menembus ruang dan waktu.
6.
Pertanyaan
keenam oleh saudari Nunung Megawati tentang bagimana mencapai kebahagiaan.
Bahagia adalah etik dan estetika,
tergantung konsepnya. Misalnya dalam konsep barat, orang barat akan bahagia
jika dia mencari ilmu. Lain orang barat lain pula orang timur. Orang timur
ruangnya mencapai kesempurnaan, mencapai kesempurnaan itu didasarkan pada
spiritualisme. Orang timur bahagia jika dekat dengan sang khalik (Allah SWT)
demi mendapatkan keselamatan dan tujuan hidup tetapi juga tergantung
dimensinya. Orang yunani kuno mencari Tuhan dengan pikirannya. Di indonesia,
mencapai bahagia dengan hidup harmoni ruang dan waktunya. Hidup harmoni artinya
keselarasan antara lingkungan, antara satu unsur dengan unsur yang lain.
7.
Pertanyaan
ketujuh dari saudara Daud tentang Intuisi dan Insting
Intuisi merupakan tingkatan
insting yang paling dasar. Intuisi pokok dan utama. Sebetulnya intuisi meliputi
ada dan yang mungkin ada dansebagai modal utama yaitu intuisi ruang dan ituisi
waktu. Bagi binatang yang mempunyai insting belum tentu mempunyai intuisi
sebaik manusia, misalnya kucing tidak dapat membuat jadwal untuk menangkap
tikus. Insting itu bawaan contoh, monyet meskipun tidak diprogram tapi masih
tetap menikah. Insting mempunyai keterbatasan dan intuisi sebetulnya kita akan
mengerti tetapi kita tidak ingat kapan mengertinya dan diman mengertinya tidak
akan ingat. Intuisi lahirnya dalam interaksi, pengalaman, pergaulan baik
disekolah, rumah maupun masyarakat. Kemudian pengalaman terkategorikan menurut
Aristoteles ada 12 karegori, menurut Emmanuel Kant ada 4 kategori. Itulah yang
menyebabkan bisa berfikir karena sudah terbentuk kategori. Kategori terbentuk
secara alami lewat pergaulan maka intuisi itu pengalaman kategori dipakai untuk
berfikir.
8.
Pertanyaan kedelapan dari saudara Saifan
tentang keyakinan diri terhadap doa
Seberapa jauh kita memikirkan
tentang doa seberapa jauh kita berfilsafat tentang spiritual. Pikiran seseorang
tidak mampu memaknai segala macam doa. Sebagai manusia kita hanya mampu ber
ikhtiar dan berdoa. Selalu memohon kepada Allah SWT untuk mengampuni segala
dosa kita dan membaca Al-Quran sebagai pedoman hidup dan menuntun kita menuju
jalan Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar