Terinspirasi kuliah Filsafat Ilmu pertemuan kedua Oleh Prof. Dr.
Marsigit, M.A.
Pada hari Kamis, 25 September 2014
Pukul 09.30 – 11.10 di ruang 201A Gedung Lama
PPs UNY
Direfleksikan oleh Weni Gurita Aedi
Pend. Matematika B (S2)
14709251012
Memahami Filsafat
Obyek filsafat meliputi yang ada dan yang
mungkin ada. Metode berfilsafat yaitu intensif dan ekstensif. Intensif berarti
dalam sedalam-dalamnya dan ekstensif berarti luas seluas-luasnya, tetapi
apadaya manusia, karena manusia hanya terbatas. Yang kita anggap dalam bisa
diperdalam oleh orang lain atau diri kita sendiri diwaktu yang lain dan yang
kita anggap luas bisa diperluas oleh orang lain atau diri kita sendiri di waktu
yang lain.
Komponen hidup yaitu fatal dan fital.
Fatal adalah takdir dan fital adalah ikhtiarnya. Takdir mengikuti ikhtiar. Alat
berfilsafat menggunakan bahasa analog, salah satunya menggunakan elegi.
Kelebihan dari bahasa analog yaitu mampu menembus ruang dan waktu. Kemampuan
menembus ruang dan waktu itulah sebenar-benarnya kemampuan hidup kita, karena
tidak ada satupun yang ada dan yang mungkin ada tidak menembus ruang dan waktu.
Jika salah satu unsur ditiadakan maka tidak akan ada kehidupan. Contoh: jika
ikan tidak ada air, maka ikan tersebut bisa mati meskipun bagi serangga masih
bisa hidup atau manusia jika makan dan air ditiadakan maka manusia akan
meninggal meskipun cacing tanah masih bisa hidup.
Bahasa analog tidak sekedar kiasan, tetapi
lebih tinggi dari kiasan, contoh : kata “cinta”. Karena cinta bisa
menembus ruang dan waktu misalnya pada manusia, cinta bisa menembus ruang untuk
ruangnya manusia ada cinta orang dewasa, cinta anak kecil, cinta suami istri,
cinta orang tua, cinta orang terhadap TUHAN. Jika di ekstensikan maka cinta
juga akan menembus ruang dan waktu untuk ruangnya hewan, ada cinta monyet,
cinta harimau, cinta kucing, cinta ikan, dll. Maka secara logika juga ada
cintanya tumbuh-tumbuhan, cinta bebatuan, cinta alam, dll. Cinta dari yang ada
dan yang mungkin ada. Manusia sulit memahami jika masih terpaku pada suatu
dimensi tertentu, dia lebih mampu menembus ruang dan waktu. Misal cinta dua
buah batu, yaitu subyeknya yang bercinta (orang yang mempunyai batu) seperti
tukar cincin atau batu bertasbih, yang bertasbih adalah subyeknya, batu bisa
berdoa dan yang berdoa adalah subyeknya karena digunakan untuk berdoa. Jadi
itulah jenis bahasa analog.
Metode filsafat yaitu intensif dan
ekstensif. contoh: Ada sesuatu hal yang belum diketahui oleh seseorang, hal
yang belum diketahui tersebut masih menjadi yang mungkin ada bagi seseorang
yang belum mengetahui. Yang mungkin ada itu bisa selamanya tidak ada bagi orang
tersebut. Hal yang mungkin ada bisa menjadi ada dan salah satunya dapat
disampaikan secara lisan. Selain itu juga dapat menggunakan panca indera untuk
menjadikan yang mungkin ada menjadi ada. Misalnya seorang mahasiswa lupa
menaruh kunci motor, dia berpikiran bahwa kuncinya ditaruh di saku celana.
Cukup dengan perabaan tangan ke saku, mahasiswa tersebut dapat mengetahui
kuncinya berada disaku. Jadi untuk mengajarkan yang mungkin ada tidak
semata-mata harus pake kata-kata atau tulisan. Sehingga dengan memahami yang
mungkin ada, seseorang dapat mesyukuri ciptaan Allah SWT yang luar biasa.
Sesuatu yang kita pikirkan bisa diluar
pikiran dan bisa didalam pikiran. Diluar pikiran disebut realism dan yang
didalam pikiran disebut idealism. Selama kita berada di dunia tidak ada yang
bersifat identitas, pasti besifat kontradiksi. Kontradiksi adalah predikat
termuat didalam subyek. Terkadang sesuatu yang dianggap sama, dalam fisafat
belum tentu sama. Karena sensitif terhadap ruang dan waktu maka beda ruang
sudah beda pikiran dan obyeknya. Ketika urusan dunia, predikat tidak mungkin
sama dengan subyeknya. Predikat hanya bisa bersama subyek apabila di dalam
pikiran (pengandaian).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar