Rabu, 22 Oktober 2014

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu Pertemuan Kelima ( oleh Prof. Dr. Marsigit, M. A.)

Terinspirasi kuliah Filsafat Ilmu pertemuan kelima Oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Pada hari Kamis, 16 Oktober 2014
Pukul 09.30 – 11.10 di ruang 201A Gedung Lama PPs UNY

Direfleksikan oleh Weni Gurita Aedi
Pend. Matematika B (S2)
14709251012

Mengajukan Berbagai Pertanyaan Sebagai Salah Satu Metode Belajar Filsafat
Kuliah Filsafat Ilmu pada pertemuan ke lima ini, kembali Prof. Marsigit, M.A. memberikan kesempatan kepada para mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan. Pertanyaan ditulis di kertas, minimal satu pertanyaan dan dikumpulkan. Pertanyaan bebas mengenai apa saja.

1.       Pertanyaan pertama dari saudara Aminullah yaitu “Apakah semua hal yang kita pikirkan atau kita alami harus mampu direfleksikan?”
Pertanyaan ini telah membuat syarat/keadaan tertentu yang dalam hal tertentu bisa melanggar atau tidak harmonis dengan ruang dan waktu. Satu sifat itu berdimensi meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Itu baru satu sifat yang diperdalam, padahal manusia mempunyai sifat yang misal diekstensikan pun meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Kita sendiri tidak mampu menyebut semua sifat yang kita punya. Apalah daya pikiran kita untuk mengungkapkan semuanya. Itulah kemudian yang diakui oleh Socrates bahwa ternyata pada akhirnya “aku tidak mengerti apapun”. Apabila semua yang kita pikirkan direfleksikan. Maka akan direfleksikan kepada siapa dan dimana? Jawabnya adalah refleksikan kepada yang ada dan yang mungkin ada, hubungan dunia yang satu dengan yang lain adalah hubungan antara yang ada dan yang mungkin ada. Semua yang dipikirkan tidak mungkin bisa direfleksikan, ada batasannya. Yaitu dibatasi oleh ruang dan waktu, ruang dan waktunya yaitu etik dan estetika.

2.       Pertanyaan kedua dari saudara Daud yaitu “Kenapa tingkat teratas itu adalah hati dan apakah ada tahapan-tahapan batasan hati kita?”
Urutan dari yang paling bawah ada material, formal, normatif, dan spiritual. Pendapat itupun sudah dilawan oleh Augustecomte, ia sudah menaruh spiritualitas di paling bawah. Pada kehidupan dunia sekarang ini ternyata bukan spiritualitas yang paling tinggi. Karena bukan spiritualitas, maka trend internasional, mood nya bukan dalam kerangka spriritualitas. Jadi itulah sebabnya maka mau tidak mau apabila kita ingin konsisten dengan budaya kita dengan kehidupan kita ya seperti itulah teorinya.

3.       Pertanyaan dari saudara Siti Nafsul Mutmainah yaitu “Apa bedanya egois, mandiri, dan pribadi?”
Pertanyaan ini masuk ke ranah ilmu bidang. Ilmu filsafat berbeda dengan ilmu psikologi. Kalau psikologi ada filsafatnya yaitu pengendalian dan ditambah action atau perlakuannya. Sebenarnya manusia hidup itu dibekali dua potensi yaitu potensi fatal dan potensi fital. Potensi fatal itu adalah dia mengikuti suratan takdirnya, dan suratan takdirnya itupun ternyata dipengaruhi oleh ikhtiarnya. Kalau sekarang ikhtiar kita juga potensi kita sebagai wanita, maka itulah takdir kita sebagai wanita. Takdir berikutnya setelah kita berikhtiar, ikhtiar kita di dalam dunia wanita, berarti dengan menggunakan prinsip-prinsip, hukum-hukum, dalil dan teorema, ketentuan teori-teori yang dibuat manusia dua puluh tahun lagi kita bisa membayangkan sebagai ibu rumah tangga yang mempunyai anak, dan kemudian menjadi nenek. Membaca takdir adalah urusan dunia. Disinilah pentingnya berfilsafat, kita berusaha, berikhtiar untuk mampu mengetahui yang ada dan yang mungkin ada. Namun, dalam batas semampu kita walaupun tidak ada seorangpun yang mampu mengetahui semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka sebenar-benar manusia adalah manusia yang sempurna ciptaan Tuhan dalam ketidaksempurnaannya. Beruntunglah karena kita diberi keterbatasan, sehingga kita bisa mengetahui hidup ini, memaknai hidup ini, karena keterbatasan itu.

4.       Pertanyaan keempat dari Saudara Tesi Kumalasari yaitu “Filsafat ditulis dalam keadaan jernih, saat pikiran dan hati kacau apakah kita boleh berfilsafat?”
Ketika kita mulai kacau maka sebaiknya stop berpikirnya. Ambil air wudlu kemudian solat, berdoa, berdzikir, memohon ampun, memohon petunjuknya. Kalau sudah tenang lagi, baru dilanjutkan berpikirnya. Sekacau-kacau pikiran, silakan kacau karena kacaunya pikiran adalah awal dari ilmu, tapi jangan biarkan hatimu walaupun satu itu kacau. Karena kacaunya hati itu adalah godaan syaitan. Sehebat-hebat kekacauan pikirmu perlu disyukuri karena itu pertanda bahwa engkau sedang berpikir. Namun janganlah kacau itu turun ke dalam hatimu. Kalau pikiranmu hatimu sudah mulai kacau, stop dulu, refreshkan pikiran, baru mulai lanjutkan. Itulah pentingnya spiritualitas ditaruh pada tingkatan yang paling tinggi. Jangan dipaksakan dalam kondisi pikiran kacau kita tetap berpikir. Tinjau kembali “Elegi Hanya Doakulah yang Tersisa”, disana dikatakan oleh orang tua berambut putih, ada dua cara mengatasi kekacauan pikiran. Yang pertama, intensifkan dan ekstensifkan kerja pikiran anda secara maksimal. Yang kedua, sudah jangan gunakan lagi pikiran anda.

5.       Pertanyaan ke lima dari Saudara Nunung Megawati yatu “Bagaimana cara menggapai pikiran dan hati yang bersih?”
Segala sesuatu harus sesuai dengan kodratnya sesuai dengan takdirnya. Kemudian berikutnya mengetahui prinsip-prinsipnya atau teorinya, beberapa prinsip yang telah dibuat adalah sehebat-hebat pikiranmu janganlah engkau merasa hebat terhadap hatimu. Ilmu dalam pikiranmu itu adalah urusan dunia. Kalau sudah masuk ke dalam urusan akhirat, maka ilmu itu ada di dalam hatimu. Wahyu tidak diturunkan ke dalam pikiran para nabi, tetapi ke dalam hatinya para nabi. Sedangkan untuk pikiran, pekerjaanmu itu adalah tesis, antithesis, dan sintesis. Tesis itu adalah setiap yang ada dan yang mungkin ada. Dirimu adalah tesis, kalau dirimu tesis, diriku adalah antitesis. Antara dirimu dan diriku ada apa, itulah sintesis. Belajar berfilsafat adalah belajar menjelaskan. Ditemukan bahwa filsafat itu adalah penjelasan itu sendiri. Maka ketika kita belajar membuat komen pada elegi-elegi maka itulah sebenar-benar antitesis yang kita buat, serta sintesis-sintesis. Di dalam pikiran berikhtiar melakukan sintesis sesuai dengan ruang dan waktunya, ruang dan waktunya dibatasi oleh etik dan estetika dalam kerangka hatinya. Damai di dalam hati dibingkai dengan doa. Apalah daya manusia bisa mencapai damai dan bisa mencapai kejernihan tanpa pertolongan dari Tuhan.

6.       Pertanyaan ke enam dari saudara Muhammad Munir yaitu “Apakah Teologi bilangan itu?”
Teologi bilangan itu esa. Esa itu beda dengan satu. Esa itu adalah Tuhan ku. Itu teologi daripada bilangan. Sosial matematika adalah hubungan antar orang, hubungan antar orang itu. Maka apa yang aku pikirkan, apa yang engkau pikirkan di dalam pikiranmu itu subyektif. Pikiran seseorang belum tentu sama dengan pikiran orang lain. Jika pikiran seseorang sama dengan pikiran orang lain, maka itu namanya pikiran yang obyektif. Misal 2 + 3 = 5 Itu benar apabila kita berpikir matematika elementer. Berarti untuk 2 + 3 = 5, pikiran kita sudah mencapai taraf berpikir obyektif. Subyektifmu sama dengan obyektifmu, karena sama dengan pikiran orang yang lain. Agar mengerti apakah pikiran subyektif benar atau tidak, kita perlu bicara, perlu menulis, perlu mendapat ujian, perlu melakukan kegiatan publikasi. Agar menjadi pengetahuan obyektif itulah pentingnya dipublikasikan.

7.       Pertanyaan ke tujuh dari saudara Taufik Akbar yaitu  “Bagaimana bertanya yang baik tentang filsafat?”
Bertanya itu bukan masalah baik dan tidak baik. Masalah baik dan tidak, kalau dipandang dari segi filsafat itu adalah etik dan estetika. Etik dan estetika terikat oleh ruang dan waktu. Bertanya itu harus sesuai dengan ruang dan waktunya. Kalau tidak sesuai dengan ruang dan waktunya itu disebut pertanyaan yang buruk. Baik dan buruknya filsafat ini bergantung pada sesuai dengan waktunya atau tidak.

8.       Pertanyaan ke tujuh dari saudara Weli Meinarni yaitu “Yang tidak ada di dunia itu ada atau tidak?”
Berdasarkan penjelasan minggu sebelumnya tentang perkembangan sejarah filsafat, dari jaman Yunani sampai jaman sekarang, itulah dunia. Dunia yang merentang pada waktunya. Immanuel Kant mengatakan kalau engkau ingin mengetahui dunia maka tengoklah ke dalam pikiranmu. Jadi, dunia itu isomorfis dengan pikiranmu. Pikiran kita dengan pikiran yang lain juga isomorfis. Yang tidak ada di dalam pikiran kita masing-masing itu ada banyak sekali, tak hingga banyaknya meliputi yang ada dan yang mungkin ada. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar