Rabu, 15 Oktober 2014

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu Pertemuan Keempat (oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.)

Terinspirasi kuliah Filsafat Ilmu pertemuan keempat Oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Pada hari Kamis, 9 Oktober 2014
Pukul 09.30 – 11.10 di ruang 201A Gedung Lama PPs UNY

Direfleksikan oleh Weni Gurita Aedi
14709251012
Pend. Matematika B (S2) 



Perkembangan Filsafat dan Aliran – Alirannya dari Masa Lampau hingga Masa Kontemporer

Filsafat itu objeknya ada dan yang mungkin ada. Yang ada dan yang mungkin ada pasti mempunyai tujuan atau cita-citanya masing-masing. Dari perbedaan sifat-sifat maka dapat ditelaah, yang ada itu tetap (permendism) dan yang mungkin ada itu berubah. Yang ada itu besifat satu, yang mungkin ada itu bersifat banyak. Yang ada satu menghasilkan filsafat monoism, jika yang ada dua menghasilkan filsafat dualism dan yang ada banyak menghasilkan filsafat fundaism.
Menurut Immanuel Kant, jika seseorang ingin mengetahui dunia, silahkan tengok ke pikirannya masing-masing karena dunia itu seperti apa yang dipikirkan. Seseorang mengerti dunia ketika orang tersebut tidak tidur dan jika menyadarinya didalam pikiran. Jadi, apa yang disana itu sebetulnya terjadi didalam pikiran kita. Yang tetap itu lebih banyak ada didalam pikiran sedangkan yang berubah itu lebih banyak diluar pikiran. Didalam pikiran, dunia filsafat itu bersifat idealism dan tokohnya Plato. Sedangkan yang diluar pikiran lahirlah filsafat yaitu realism dan tokohnya Aristoteles. Didalam filsafat yang tetap semuanya itu bersifat tetap, misalnya sekali umat tetap umat tidak bisa berubah, sekali subjek tetap subjek tidak bisa berubah. Akan tetapi dalam filsafat berubah, dunia ini semuanya mengalami perubahan karena sesuai hukumnya yaitu aku tidak bisa menyebut diriku didunia tetapi dalam filasafat tetap aku sama dengan aku yaitu hukumnya identitas dan hanya terjadi didalam pikiran. Didalam dunia ini yang bisa menyebut aku sama dengan aku yaitu hanya Allah SWT pencipta alam semesta. Karena manusia tidak bisa menyebut aku sama dengan aku maka sebenarnya hidup didunia ini hukumnya kontradiksi.
Didalam filsafat terdapat dua hukum yaitu, hukum identitas dan hukum kontradiksi. Yang tetap bersifat analitik atau bahasa. Yang berubah bersifat sintetik. Analitik hukumnya identitas atau tautologi. Akan tetapi dalam sintetik, jika kita masih berada dalam dunia maka masih sintetik dan hukumnya kontradiksi. Aku tidak bisa menyebut diriku, aku belum selesai menyebut diriku, aku sudah terganti dengan diriku yang tadi menjadi diriku yang sekarang. Karena didalam filsafat berubah, terikat oleh ruang dan waktu. Sedangkan didalam filsafat tetap, terbebas dari ruang dan waktu. Analitik bersifat apriori dan sintetik bersifat apostiori. Yang tetap itu bersifat ideal, jika ideal pasti berkaitan dengan sesuatu yang ada didalam pikiran. Jadi, didalam pikiran itu artinya rasio dan munculah filsafat rasionalism dan tokohnya Renee Descrates. Yang berubah itu bersifat realis, dan berkaitan dengan sesuatu yang ada diluar pikiran. Diluar pikiran yaitu sesuai pengalaman maka munculah filsafat empirisism dan tokohnya David Humme. Descrates mengatakan tiadalah ilmu jika tanpa rasio sebaliknya David mengatakan tidak akan ada ilmu jika tidak ada pengalaman.
Didalam rasionalism aspeknya ragu-ragu (sceptisism) dan konsisten (koherantism) sedangkan didalam empisism aspeknya meliputi metode penemuan (scientificism) dan korespondensism. Masing-masing pendapat sama-sama mempunyai pengikut, sama-sama mempunyai kebaikan,  sama-sama mempunyai kesalahan. Yang ideal selalu mendewa-dewakan pikirannya sendiri  contohnya seseorang sudah takut beruang padahal orang tersebut belum pernah bertemu dengan beruang, belum pernah digigit beruang, jadi ketakutakan terhadap beruang bersifat apriori. Sebaliknya jika yang realis, tidak ada ilmu jika tidak ada pengalaman. Apostiori yaitu bisa memikirkan setelah melihat contohnya seekor kucing disuruh membuat jadwal menangkap tikus, tidak akan ada kucing yang dapat membuat jadwal. Sehingga dari keduanya munculah yang bersifat netral dan lahirlah seorang Immanuel Kant.
Kant mengtakan Descrates ada kesombongan karena selalu mendewa-dewakan rasio. Sedangkan David selalu mendewa-dewakan pengalaman dan meremehkan rasio. Descrates mengatakan ilmu itu analitik aporiori, meskipun belum melihat planet mars (masa depan) tetap saja bisa memikirkannya. Sedangkan menurut David harus ada pengalaman. Jika gabungkan antara analitik apriori dan sintetik apostiori maka muncul analitik apostiori dan sintetik apriori dan mana yang lebih baik. Analitik apostiori itu beda hakekat jika analitik itu identitas, yang berarti dia konsisten bisa memikirkannya meskipun belum mengetahuinya. Contoh jika sesorang ingin naik kereta api ke jakarta, orang tersebut tidak perlu meneliti stasiun gombong, stasiun purwokerto dan stasiun cirebon. kalau sudah ada baru naik kereta terus berangkat, akan tetapi cukup gunakan analitik yang berkeyakinan nanti juga bakal sampai jakarta. Kalau apostiori itu tidak bisa memikirkan sehingga keretanya tidak bisa jalan misalnya karena masinisnya masih dikereta yang lain. Jadi menurut Immanuel Kanta bahwa ilmu itu sintesis apriori. Sintetik itu bersifat pengalaman.
 Berinteraksi dari pengalaman seatu ke pengalaman berikutnya maka diperoleh pengetahuan. Dan pengetahuan tesebut disebut sebagai pengetahuan intuisi sehingga lahirlah filsafat intusism. Intuisi yang bedasarkan pengalaman maka terbentuklah kategorisism. Belajar filsafat itu dari peristiwanya dan pelajarilah berdasarkan pengalaman. Kategori tersebut merupakan cikal bakal logika. Jadi logika itu ada kaitannya dengan pengalaman. Dengan logika kemudian seseorang akan mencari pengalaman kemudian berlogika lagi, berlogika lagi sampai seterusnya. Dan inilah yang disebut sebagai hermeneutika sehingga dalam belajar filsafat yaitu metodenya dengan hermeneutika.
Logika bersifat formal, maka lahirlah formalisme. Matematika juga formal, maka matematika bersifat aksiomatik atau dalil. Matematika yang bersifat aksiomatik adalah matematika murni atau formal atau matematika pada perguruan tinggi. Berbeda dengan matematika untuk anak-anak. Kalau matematika untuk perguruan tinggi diberikan pada anak-anak maka akan memunculkan paham bahwa matematika begitu sulit untuk dicerna. Karena pada hakekatnya memang anak-anak belumlah siap dan belum waktunya untuk dijejali ilmu matematika pada tingkat yang tinggi.
Pada hakekat manusia didalam lautan ide, yang diharapkan adalah sesuai dengan tatanan yaitu mulai dari yang paling bawah yaitu material, formal, normative, hingga spiritual. Namun pada kenyataanya lautan ide kontemporer tidak seperti itu. Secara sosiologis tahapan perkembangan manusia dari yang paling bawah dimulai dari Archaic atau jaman manusia batu/purba. Di atas itu ada Tribal, manusia pada jaman ini sudah punya peralatan untuk menyokong kehidupannya, misalkan tombak. Kemudian di atas tribal ada tradisional. Tradisional itu manusia-manusia di jaman yang belum mengenal kecanggihan teknologi, belum mengenal komputer, hp, dll. Tradisional kalau sudah dikuasai oleh motif, namanya feodal. Pada jaman feodal sudah ada teknologi, tapi teknologi tersebut yang menguasai orang, teknologi menguasai masyarakat, teknologi menguasai bangsa. Di atas feodal muncullah modern. Di dalam filsafat modern itu muncul pada jaman sebelum ada paham Descartes. Yaitu jaman yang disebut abad gelap. Abad gelap didominasi oleh gereja, tidak boleh seseorang mengklaim kebenaran kecuali atas restu gereja. Setelah jaman modern, muncullah post modern. Setelah post modern ada post post modern. Jaman kontemporer saat inilah disebut sebagai jaman post post modern atau dapat disebut juga Power Noun. Filsafatnya meliputi kapitalisme, utilitarianisme, pragmatisme, materialisme, hedonisme.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar